MENENGOK JEDOR SOBONTORO, TULUNGAGUNG, JATIM *)
Orang makan beling makan, makan ayam bugar, saat kesurupan (trance) dalam jaranan yang juga sering disebut kuda lumping. Diiringi tetabuhan gendang, kentongan, orang rela duel cambuk lidi daun aren dalam tiban, ketika terik kemarau berkepanjangan. Tangan, punggung mereka berbilur-bilur merah. Darah pun mengalir dalam ritual minta hujan segera turun. Hijaulah sawah petani desa Wajak, Tulungagung, Jawa Timur.
Jaranan dan tiban memang tak secanggih Kozuii. Produk teknologi negara maju itu konon bisa mengidealkan body perempuan berbagai usia. Jaranan dan tiban, tak lain dari dua di antara aneka kesenian tradisional Tulungagung. Itu belum terhitung beragam kesenian tradisional lain, khas, unik, tersebar di seluruh pelosok desa wilayah Indonesia. Semua itu menjadi kekayaan milik negeri kita. Karenanya, Indonesia masih bisa dibanggakan.
Kita sedih bila tak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, baik sebagai pribadi maupun bangsa. Percaya diri, tumbuh karena memiliki kebanggaan. Bangga punya jaranan dan tiban misalnya, pada gilirannya bisa mendorong terciptanya karya-karya lain: produk-produk berguna bagi sesama, tidak saja Kozuii berinfra merah.
Memang, berbagai produk sarana kehidupan bisa kita cukupi tanpa mencipta sendiri. Budianta (1992) mengatakan, “Komputer bisa diimpor, pesawat terbang dibeli atau dirakit sendiri. Tetapi, mampu percaya diri di manakah kita akan membelinya?”Semasa jaya Gajah Mada, Empu Nala mencipta sendiri perahu, kapal-kapal besar. Nenek moyang kita pun mengarungi berbagai belahan dunia. Gelombang utara: laut Jawa, laut Cina Selatan ditaklukkan. Bahkan, ke Madagaskar menembusi Samudera Indonesia (go international). Kesenian tradisional kita tak lain dari hasil cipta karya sendiri. Ia lahir dari individu-individu percaya diri mampu mencipta. Dari sini, kita mendapatkan harga diri, kreativitas, dan kehormatan bangsa.
Jedor
Kesenian tradisional jedor menjamur di desa wilayah Tulungagung seperti Wajak, Pesanggrahan, Tanggung, Ngrueng, Sepatan, Bendo, Kalituri, Gedangsewu, Moyoketen, Kedungcangkring, Wonorejo, Karangwaru, Winong, Karangrejo, Jeli maupun desa Sendang. Tak jarang dalam satu desa tertentu, masih terdapat beberapa paguyuban jedor. Bagai kerak di atas batu, hidup segan mati tak mau. Demikianlah, nasib kesenian tradisional ini. Sekarang, jedor jarang terdengar kecuali di desa Sobontoro. Para pemain sudah banyak yang meninggal. Bila diundang jedoran di tempat orang berhajat, pemain jedor yang ada dari berbagai desa menggabung. Jarak antarmereka cukup jauh. Usia diri telah lanjut: pelo (suara nggak jelas [r] terdengar [l], misalnya) dan badan rentan terhadap angin malam.
…………………………………..
oleh lik ni, di tepi ladang jagung, 2008
Orang makan beling makan, makan ayam bugar, saat kesurupan (trance) dalam jaranan yang juga sering disebut kuda lumping. Diiringi tetabuhan gendang, kentongan, orang rela duel cambuk lidi daun aren dalam tiban, ketika terik kemarau berkepanjangan. Tangan, punggung mereka berbilur-bilur merah. Darah pun mengalir dalam ritual minta hujan segera turun. Hijaulah sawah petani desa Wajak, Tulungagung, Jawa Timur.
Jaranan dan tiban memang tak secanggih Kozuii. Produk teknologi negara maju itu konon bisa mengidealkan body perempuan berbagai usia. Jaranan dan tiban, tak lain dari dua di antara aneka kesenian tradisional Tulungagung. Itu belum terhitung beragam kesenian tradisional lain, khas, unik, tersebar di seluruh pelosok desa wilayah Indonesia. Semua itu menjadi kekayaan milik negeri kita. Karenanya, Indonesia masih bisa dibanggakan.
Kita sedih bila tak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, baik sebagai pribadi maupun bangsa. Percaya diri, tumbuh karena memiliki kebanggaan. Bangga punya jaranan dan tiban misalnya, pada gilirannya bisa mendorong terciptanya karya-karya lain: produk-produk berguna bagi sesama, tidak saja Kozuii berinfra merah.
Memang, berbagai produk sarana kehidupan bisa kita cukupi tanpa mencipta sendiri. Budianta (1992) mengatakan, “Komputer bisa diimpor, pesawat terbang dibeli atau dirakit sendiri. Tetapi, mampu percaya diri di manakah kita akan membelinya?”Semasa jaya Gajah Mada, Empu Nala mencipta sendiri perahu, kapal-kapal besar. Nenek moyang kita pun mengarungi berbagai belahan dunia. Gelombang utara: laut Jawa, laut Cina Selatan ditaklukkan. Bahkan, ke Madagaskar menembusi Samudera Indonesia (go international). Kesenian tradisional kita tak lain dari hasil cipta karya sendiri. Ia lahir dari individu-individu percaya diri mampu mencipta. Dari sini, kita mendapatkan harga diri, kreativitas, dan kehormatan bangsa.
Jedor
Kesenian tradisional jedor menjamur di desa wilayah Tulungagung seperti Wajak, Pesanggrahan, Tanggung, Ngrueng, Sepatan, Bendo, Kalituri, Gedangsewu, Moyoketen, Kedungcangkring, Wonorejo, Karangwaru, Winong, Karangrejo, Jeli maupun desa Sendang. Tak jarang dalam satu desa tertentu, masih terdapat beberapa paguyuban jedor. Bagai kerak di atas batu, hidup segan mati tak mau. Demikianlah, nasib kesenian tradisional ini. Sekarang, jedor jarang terdengar kecuali di desa Sobontoro. Para pemain sudah banyak yang meninggal. Bila diundang jedoran di tempat orang berhajat, pemain jedor yang ada dari berbagai desa menggabung. Jarak antarmereka cukup jauh. Usia diri telah lanjut: pelo (suara nggak jelas [r] terdengar [l], misalnya) dan badan rentan terhadap angin malam.
…………………………………..
oleh lik ni, di tepi ladang jagung, 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar