JAMBUL DAN CALON-CALON *)
Siang itu Sabtu, 15 November 2008, jam ke- 6 dan 7, bersama anak-anak VIII A kami mendarat di mushalla sekolah. Perbaikan ruang belajar maupun pendirian ruang-ruang baru sedang berlangsung di sekolah. Ruang VIII A yang biasa kami gunakan untuk pembelajaran pun diperbaiki. Maka, hari itu kami transmigrasi di mushalla sekolah bersama angin, bersama mendung dan semangat.
Belajar di sekolah itu tidak harus di ruang kelas. Ia bisa dilakukan di mana saja. Hal itu bergantung pada beberapa hal. Salah satunya adalah kompetensi dasar (KD) apa yang harus dicapai siswa. Misalnya, bila siswa diharapkan mampu berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara, maka mereka itu akan belajar di luar kelas yakni dalam kehidupan nyata (realitas). Mereka akan terjun di dunia nyata mewawancarai penjual es misalnya, dengan topik: upaya apa yang dilakukan agar tidak merugi di musim tak menentu ini.
Sudah jelas, ruang kelas itu hanya salah satu tempat pembelajaran. Pembelajaran bisa dilakukan di banyak tempat. Di pasar tradisional, mal maupun plaza, di kebun, di sawah petani tercinta, di pabrik atau laboratorium, kantor, dll. kita bisa melakukan pembelajaran. Budianta (1996: 8) mengemukakan, “Di rumah pun kita dapat belajar agama, ekonomi, kehidupan seksual, anatomi, biologi, kimia, komputer, apa saja. Sekarang dengan adanya fax dan modem, rumah nyaris menjadi segala-galanya.” Ya, rumah memang memberikan kebijaksanaan sebab ia juga berfungsi sebagai perguruan, mungkin pertapaan.
Begitulah, siang itu kami menggunakan mushala sekolah sebagai tempat belajar. Di situ kami mempelajari pola sebab-akibat: salah satu pola yang ada dalam pengembangan kalimat utama menjadi paragraf padu (koheren). Sebelum belajar membaca cepat, pola-pola pengembangan kalimat utama perlu dikuasai dulu. Dengan mengenali pola pengembangannya, inti sebuah paragraf akan lebih gampang diketahui. Hal ini diperlukan kelak dalam pembelajaran membaca (membaca cepat).
Calon polisi, calon usahawan, cagur minus naik bajaj, calon petani unggul, calon presiden, calon-calon lain – tak ada calon teroris maupun koruptor, tampak bersemangat belajar di tempat pengungsian tadi. Meski ada keributan plus black board yang susah dihapus – penggosok perlu diramu air kran wudlu biar tulisan sirna, semangat pengungsi tak padam. Lalu, Pitik Jambul pun berkumandang sebagai berikut.
Pitik walik jambul, sega golong mambu enthong.
Mangga sami kondur, weteng kula sampung kothong.
Enake-enake sega liwet jangan terong …
Meskipun ayam berbulu terbalik, toh berjambul. Ia tak menderita akibat kondisi bulunya. Sebaliknya, dia tak mengeluh belajar keras di mana saja, apalagi di pengungsian. Lihat jambulnya, dengar kokoknya: selamat siang guru, selamat siang kawan-kawan!
…………………………….
*) oleh pak ben
di tepi ladang jagung, november 2008
Siang itu Sabtu, 15 November 2008, jam ke- 6 dan 7, bersama anak-anak VIII A kami mendarat di mushalla sekolah. Perbaikan ruang belajar maupun pendirian ruang-ruang baru sedang berlangsung di sekolah. Ruang VIII A yang biasa kami gunakan untuk pembelajaran pun diperbaiki. Maka, hari itu kami transmigrasi di mushalla sekolah bersama angin, bersama mendung dan semangat.
Belajar di sekolah itu tidak harus di ruang kelas. Ia bisa dilakukan di mana saja. Hal itu bergantung pada beberapa hal. Salah satunya adalah kompetensi dasar (KD) apa yang harus dicapai siswa. Misalnya, bila siswa diharapkan mampu berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara, maka mereka itu akan belajar di luar kelas yakni dalam kehidupan nyata (realitas). Mereka akan terjun di dunia nyata mewawancarai penjual es misalnya, dengan topik: upaya apa yang dilakukan agar tidak merugi di musim tak menentu ini.
Sudah jelas, ruang kelas itu hanya salah satu tempat pembelajaran. Pembelajaran bisa dilakukan di banyak tempat. Di pasar tradisional, mal maupun plaza, di kebun, di sawah petani tercinta, di pabrik atau laboratorium, kantor, dll. kita bisa melakukan pembelajaran. Budianta (1996: 8) mengemukakan, “Di rumah pun kita dapat belajar agama, ekonomi, kehidupan seksual, anatomi, biologi, kimia, komputer, apa saja. Sekarang dengan adanya fax dan modem, rumah nyaris menjadi segala-galanya.” Ya, rumah memang memberikan kebijaksanaan sebab ia juga berfungsi sebagai perguruan, mungkin pertapaan.
Begitulah, siang itu kami menggunakan mushala sekolah sebagai tempat belajar. Di situ kami mempelajari pola sebab-akibat: salah satu pola yang ada dalam pengembangan kalimat utama menjadi paragraf padu (koheren). Sebelum belajar membaca cepat, pola-pola pengembangan kalimat utama perlu dikuasai dulu. Dengan mengenali pola pengembangannya, inti sebuah paragraf akan lebih gampang diketahui. Hal ini diperlukan kelak dalam pembelajaran membaca (membaca cepat).
Calon polisi, calon usahawan, cagur minus naik bajaj, calon petani unggul, calon presiden, calon-calon lain – tak ada calon teroris maupun koruptor, tampak bersemangat belajar di tempat pengungsian tadi. Meski ada keributan plus black board yang susah dihapus – penggosok perlu diramu air kran wudlu biar tulisan sirna, semangat pengungsi tak padam. Lalu, Pitik Jambul pun berkumandang sebagai berikut.
Pitik walik jambul, sega golong mambu enthong.
Mangga sami kondur, weteng kula sampung kothong.
Enake-enake sega liwet jangan terong …
Meskipun ayam berbulu terbalik, toh berjambul. Ia tak menderita akibat kondisi bulunya. Sebaliknya, dia tak mengeluh belajar keras di mana saja, apalagi di pengungsian. Lihat jambulnya, dengar kokoknya: selamat siang guru, selamat siang kawan-kawan!
…………………………….
*) oleh pak ben
di tepi ladang jagung, november 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar